Tak Ada Puso Permanen, Distan Lebak Fokus Atasi Krisis Air di Sawah Tadah Hujan

Daerah66 Dilihat

INFORUHAY LEBAK – Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Lebak meluruskan data lahan pertanian terdampak kekeringan yang sebelumnya mencapai 294 hektare. Dari angka tersebut, 14 hektare yang sempat masuk kategori puso atau gagal panen kini dipastikan telah pulih dan kembali produktif.

Kepala Distan Kabupaten Lebak, Rahmat Yuniar, mengatakan pemulihan lahan dilakukan setelah petani mendapat tambahan pasokan air melalui bantuan pompa serta upaya pengairan secara mandiri.

“Alhamdulillah, angka 14 hektare yang sempat muncul sebagai kategori puso itu sudah dipulihkan. Lahan-lahan tersebut kembali produktif karena sudah terairi, baik melalui bantuan pompa maupun karena petani sudah melakukan panen,” kata Rahmat, Selasa (21/7/2026).

Menurut Rahmat, hasil klarifikasi terbaru menunjukkan belum ada laporan resmi mengenai lahan pertanian yang mengalami puso secara permanen akibat kekeringan.

Ia menjelaskan, angka 294 hektare merupakan total lahan yang terdampak kekeringan akibat minimnya curah hujan. Kondisi lahan tersebut bervariasi dan tidak seluruhnya mengalami kerusakan berat.

Kawasan paling rentan berada di lahan tadah hujan atau sawah guludu yang minim akses sumber air. Kecamatan Rangkasbitung menjadi wilayah dengan dampak terluas mencapai 227 hektare, disusul Kalanganyar 49 hektare.

Sedangkan, untuk mengantisipasi meluasnya dampak kekeringan kata Rahmat, Distan Lebak bersama Kementerian Pertanian telah menyalurkan bantuan pompa air mobile kepada kelompok tani.

Selain itu, pembangunan 28 titik Irigasi Perpompaan (IRPOM) dilakukan untuk mengoptimalkan sumber air permukaan.
Namun, Distan mengakui pompa mobile belum menjadi solusi permanen, khususnya bagi lahan tadah hujan yang tidak memiliki sumber air memadai.

Karena itu, Pemkab Lebak kini mulai menginventarisasi lahan-lahan tadah hujan yang rawan kekeringan. Data tersebut akan menjadi dasar pengajuan pembangunan sumur bor atau sumur dalam di sejumlah titik rawan.

“Instruksi Pak Bupati jelas, kita harus mendata luasan lahan tadah hujan agar tidak terulang lagi kegagalannya. Tahun 2027 mendatang direncanakan pembangunan sumur bor di titik-titik rawan kekeringan,” ujar Rahmat.

Ia berharap pembangunan infrastruktur sumber air tersebut dapat menjadi solusi jangka panjang untuk menjaga produktivitas pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan Kabupaten Lebak di tengah ancaman kekeringan setiap musim kemarau.

Dengan demikian, data terbaru Distan Lebak menegaskan bahwa 294 hektare sawah terdampak kekeringan, tetapi tidak ada lahan yang saat ini dinyatakan puso secara permanen. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *