Menanam Harapan di Pesisir Lebak, Irfan Budiono Dinobatkan Pemuda Pelopor Nasional

Berita91 Dilihat
banner 468x60

Di tanah Lebak, alam tidak pernah diperlakukan sebagai benda mati. Ia hidup, bernapas, dan menyatu dengan manusia yang menjaganya. Hutan, sungai, hingga laut adalah titipan—bukan warisan untuk dihabiskan, melainkan amanah untuk dijaga.

Nilai inilah yang selama ratusan tahun dipegang teguh oleh masyarakat Suku Baduy, dan tanpa banyak disadari, tumbuh menjadi fondasi cara pandang Irfan Budiono terhadap lingkungan.

banner 336x280

Bagi Irfan, alam dan lautan bukan sekadar ruang aktivitas. Ia adalah sumber kehidupan yang rapuh, namun sering kali dilupakan.

Dari kesadaran inilah langkah-langkah kecilnya bermula dan dapat mengantarkannya, menjadi Juara I Nasional Bidang Kepeloporan Lingkungan Hidup pada ajang Pemuda Pelopor Desa (PPD) Tahun 2025.

Alam dan Laut sebagai Satu Kesatuan

Berbeda dengan pendekatan lingkungan yang kerap terpisah-pisah, Irfan memandang hutan, sungai, dan laut sebagai satu kesatuan ekosistem. Kerusakan di hulu akan berujung di hilir, sampah di darat akan berakhir di laut.

Ia menyaksikan sendiri bagaimana pantai-pantai di Lebak perlahan tercemar, bagaimana ekosistem pesisir terancam oleh sampah dan abrasi, sementara kesadaran kolektif belum sepenuhnya tumbuh.

“Kalau laut rusak, bukan hanya nelayan yang kehilangan mata pencaharian. Kita semua kehilangan masa depan,” kata Irfan melalui siaran persnya yang diterima di Rangkasbitung. Minggu (18/1/2026).

Kesadaran itu mendorong Irfan untuk fokus pada pelestarian laut dan kawasan pesisir, tanpa meninggalkan konteks budaya dan nilai lokal.

Ekologi sebagai Etika Hidup

Bagi Irfan, menjaga lingkungan bukan proyek sesaat atau sekadar kebutuhan lomba. Ia adalah etika hidup—cara manusia menempatkan dirinya di tengah alam.

Di Lebak, wilayah yang berdampingan dengan kawasan adat Baduy, nilai itu hidup dalam keseharian. Prinsip “gunung teu meunang dilebur, lebak teu meunang diruksak” bukan hanya pesan moral, melainkan pedoman hidup lintas generasi.

“Alam bukan milik kita. Kita hanya menitipkan hidup di dalamnya,” kata Irfan, mengulang pesan para tetua adat Baduy yang selalu ia ingat.

Nilai tersebut ia terjemahkan dalam kerja nyata, mulai dari gerakan bersih pantai, edukasi lingkungan, penanaman mangrove, hingga pelibatan aktif pemuda desa dalam menjaga laut dan pesisir.

Mangrove, Laut, dan Harapan yang Ditanam

Salah satu fokus Irfan adalah pemulihan ekosistem pesisir melalui penanaman mangrove. Baginya, mangrove bukan sekadar pohon, tetapi benteng alami yang melindungi daratan dari abrasi, sekaligus rumah bagi biota laut.

Dalam salah satu kegiatan penanaman mangrove, Irfan melibatkan masyarakat, pemuda, dan pemerintah daerah. Kegiatan tersebut bahkan dihadiri langsung oleh Ketua TP PKK Kabupaten Lebak, Belia Asyidiki Jayabaya—sebuah simbol bahwa isu lingkungan dan laut membutuhkan kolaborasi lintas peran.

“Menanam mangrove itu bukan hanya soal hari ini. Itu investasi untuk anak cucu,” ujar Irfan.

Dari Kearifan Lokal ke Gerakan Kolektif

Gerakan Irfan tidak lahir dari ruang seminar atau meja kebijakan. Ia tumbuh dari interaksi langsung dengan masyarakat pesisir, dari obrolan sederhana dengan nelayan, dari kegelisahan melihat laut yang kian tercemar.

Alih-alih menyalahkan, Irfan memilih merangkul dan memberi contoh. Ia membangun gerakan berbasis komunitas—pelan, konsisten, dan berkelanjutan. Pendekatannya sederhana: mengajak masyarakat menjaga laut karena mereka hidup darinya.

Di sinilah nilai budaya Baduy menemukan relevansinya. Menjaga alam bukan dengan banyak slogan, tetapi dengan laku hidup yang konsisten.

Pengakuan Negara atas Kerja Akar Rumput

Melalui ajang Pemuda Pelopor Desa 2025 yang diselenggarakan Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Republik Indonesia, kerja sunyi Irfan akhirnya mendapat pengakuan negara.

Dewan juri nasional menilai kepeloporannya bukan semata dari aspek teknis lingkungan, tetapi dari daya hidup gerakan, keberlanjutan, serta dampaknya bagi masyarakat desa dan pesisir.

Berdasarkan Surat Resmi Kemendes PDT Nomor: 10/HMS.06/1/2026, Irfan ditetapkan sebagai juara nasional dan menerima penghargaan pada 15 Januari 2026 di Kabupaten Boyolali, bertepatan dengan Hari Desa Nasional.

Lebak, Lautan, dan Masa Depan Ekologi

Bagi Irfan, penghargaan itu bukan garis akhir. Ia tidak mengubah cara pandangnya terhadap alam dan laut.

“Seperti yang diajarkan masyarakat Baduy, alam tidak untuk dieksploitasi, tapi dijaga keseimbangannya,” katanya.

Ia berharap, semakin banyak pemuda Lebak yang menyadari bahwa menjaga laut sama pentingnya dengan membangun desa. Sebab tanpa laut yang sehat, pembangunan akan kehilangan maknanya.

Keteladanan dari Pinggiran

Bupati Lebak Mochamad Hasbi Asyidiki Jayabaya menyebut prestasi Irfan sebagai bukti bahwa nilai lokal dan kepedulian ekologis mampu berbicara di tingkat nasional.

“Irfan menunjukkan bahwa kearifan budaya, kepedulian terhadap laut, dan pembangunan bisa berjalan seiring,” ujar Bupati.

Di tengah krisis iklim dan degradasi lingkungan, kisah Irfan Budiono menjadi pengingat penting: solusi tidak selalu lahir dari teknologi canggih atau kebijakan besar. Kadang, ia tumbuh dari desa—dari pemuda yang memilih setia menjaga alam dan lautan.

Dari Lebak, dengan semangat Baduy, kerja senyap itu kini didengar oleh negara. (*)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *