Caption: Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak, Eka Darmana Putera
INFORUHAY LEBAK – Pemerintah Kabupaten Lebak melalui Dinas Kesehatan meningkatkan kewaspadaan terhadap kasus gigitan ular (snake bite) di wilayah Baduy. Langkah ini dilakukan seiring tingginya potensi kasus di kawasan tersebut, terutama saat momentum tradisi Seba Baduy 2026.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak, Eka Darmana Putra, menegaskan bahwa pihaknya telah menyiapkan stok serum anti-bisa ular (ABU) di fasilitas kesehatan, termasuk puskesmas dan instalasi gawat darurat (IGD).
“Untuk gigitan ular, kita sudah siapkan anti-bisa ular di puskesmas, stoknya cukup. Kalau tidak tertangani di lapangan, pasien bisa langsung ke IGD untuk penanganan lanjutan,” ujar Eka, Jumat (24/4/2026).
Ia menyebutkan, wilayah Baduy dan sekitarnya memang termasuk daerah rawan gigitan ular. Beberapa titik yang sering dilaporkan terjadi kasus antara lain Lewidamar, Gunung Kencana, dan Banyuresmi.
Menurut Eka, kondisi geografis Kabupaten Lebak yang masih didominasi kawasan hutan dan perbukitan menjadi salah satu faktor tingginya risiko. Bahkan, tercatat terdapat puluhan jenis ular di wilayah tersebut, termasuk yang berbisa tinggi seperti ular tanah.
“Pada prinsipnya, sebagian besar wilayah Lebak adalah zona rawan karena banyak jenis ular. Maka kami tingkatkan kesiapsiagaan, terutama di daerah yang sering terjadi kasus,” jelasnya.
Puskesmas Wajib Siaga 24 Jam
Dinas Kesehatan juga memastikan seluruh puskesmas kini diwajibkan memiliki stok anti-bisa ular. Selain itu, layanan IGD disiagakan selama 24 jam dengan tenaga medis yang berjaga secara bergantian.
Jika penanganan di puskesmas tidak optimal, pasien akan segera dirujuk ke rumah sakit yang memiliki fasilitas laboratorium lebih lengkap, seperti RSUD Adjidarmo.
“Kami minta puskesmas standby 24 jam. Ini kasus darurat yang berpacu dengan waktu, jadi tidak boleh terlambat,” tegas Eka.
Edukasi Warga: Jangan Andalkan Pengobatan Alternatif
Selain kesiapan fasilitas, Dinkes Lebak juga mengedukasi masyarakat agar tidak mengandalkan pengobatan alternatif saat terjadi gigitan ular. Warga diminta tetap tenang, membatasi pergerakan korban, dan segera membawa ke fasilitas kesehatan terdekat.
“Penanganan cepat dan sesuai prosedur sangat menentukan. Jangan menunda dengan pengobatan alternatif, karena ini bisa berakibat fatal,” katanya.
Keterbatasan Produksi Serum
Eka juga mengungkapkan bahwa ketersediaan serum anti-bisa ular masih bergantung pada produksi dari Bio Farma yang jumlahnya terbatas. Meski demikian, pihaknya telah mengantisipasi dengan penyediaan alternatif terapi.
“Memang produksinya terbatas, tapi kita upayakan semua puskesmas tetap tersedia. Yang penting penanganan cepat dan tepat,” ujarnya.
Mitigasi Wilayah Terpencil
Untuk mengatasi kendala jarak dan akses di wilayah Baduy, Dinkes mengoptimalkan peran tenaga kesehatan di desa, termasuk bidan desa, pustu, dan poskesdes. Mereka ditugaskan melakukan pemantauan aktif dan penanganan awal sebelum rujukan.
“Tenaga kesehatan di lapangan kita dorong lebih aktif memantau dan menangani kasus. Ini penting karena akses ke rumah sakit cukup jauh,” katanya.
Dengan berbagai langkah tersebut, Pemkab Lebak berharap kasus gigitan ular dapat ditangani lebih cepat dan angka fatalitas dapat ditekan, terutama di wilayah Baduy yang menjadi salah satu destinasi budaya unggulan di Banten. (*)













