Bupati Lebak Sebut Bahasa Sunda Bonus Budaya yang Harus Dilestarikan

Daerah66 Dilihat
banner 468x60

INFORUHAY LEBAK – Upaya pelestarian bahasa daerah di Kabupaten Lebak mendapat apresiasi luas. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak, Dodi Irawan, dinilai berhasil mendorong bahasa Sunda masuk sebagai muatan lokal (mulok) di seluruh sekolah negeri di wilayah tersebut.

‎Keberhasilan program revitalisasi bahasa daerah itu turut mendapat penghargaan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang diterima Bupati Lebak, Mochamad Hasbi Asyidiki Jayabaya.

banner 336x280

‎Bupati Hasbi menegaskan, keberadaan bahasa daerah di lingkungan pendidikan memiliki peran penting dalam menjaga identitas budaya masyarakat Sunda di Kabupaten Lebak.

‎Pernyataan itu disampaikan Hasbi saat menanggapi penerapan bahasa Sunda sebagai muatan lokal di sekolah-sekolah negeri di Kabupaten Lebak, Selasa (26/5/2026).

‎“Saya bilang harus ada lagi bahasa daerah karena di masa saya sekolah di Lebak itu ada bahasa daerah dan saya mengalami langsung ketika berada di luar negeri atau di luar daerah bertemu sesama orang Sunda,” ujar Hasbi.

‎Menurutnya, penggunaan bahasa Sunda dalam percakapan sehari-hari mampu mencairkan suasana dan mempererat hubungan antarsesama masyarakat Sunda di mana pun berada.

“Lalu ngobrol bahasa Sunda itu langsung mencairkan suasana. Jadi bahasa daerah adalah bonus budaya yang harus dilestarikan,” katanya.

‎Hasbi menilai langkah menghadirkan kembali bahasa Sunda sebagai muatan lokal di sekolah merupakan bentuk nyata pelestarian budaya daerah yang harus terus dijaga dan dikembangkan.

‎Ia juga mengapresiasi Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak, Dodi Irawan, yang dinilai berhasil merealisasikan kebijakan pelestarian bahasa daerah melalui dunia pendidikan.

‎Program revitalisasi bahasa daerah tersebut diharapkan mampu meningkatkan kecintaan generasi muda terhadap bahasa dan budaya lokal, sekaligus menjaga warisan leluhur agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Sementara, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak Dodi Irawan membenarkan capaian tersebut.

Menurutnya, penghargaan nasional itu menjadi bukti bahwa upaya pelestarian bahasa daerah di Kabupaten Lebak mendapat perhatian dan apresiasi dari pemerintah pusat.

‎”Alhamdulillah, ini bukan sekedar penghargaan tapi bentuk penjagaan martabat, agar tunas bahasa ibu sebagai warisan peradaban secara kolektif masih kita muliakan”. ujar Dodi.

Ia menjelaskan, selama ini Pemerintah Kabupaten Lebak terus mendorong revitalisasi bahasa daerah melalui berbagai program pendidikan dan kebudayaan.

Di antaranya penguatan pembelajaran muatan lokal, festival mendongeng bahasa daerah, lomba pidato bahasa Sunda, hingga pembiasaan penggunaan bahasa daerah di lingkungan sekolah.

‎Menurut Dodi, langkah tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga identitas budaya lokal agar tidak tergerus perkembangan zaman dan dominasi budaya digital yang kini semakin kuat di kalangan generasi muda.

‎“Bahasa daerah adalah warisan budaya yang harus dijaga bersama. Karena di dalamnya terdapat nilai, identitas, dan karakter masyarakat,” katanya.

‎Ia menambahkan, penghargaan tersebut diharapkan dapat menjadi motivasi bagi seluruh elemen masyarakat untuk terus mencintai, menggunakan, dan melestarikan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari.

Selain menjadi kebanggaan bagi Kabupaten Lebak, penghargaan nasional itu juga menunjukkan bahwa pelestarian budaya lokal tetap relevan dan mampu berjalan berdampingan dengan perkembangan teknologi serta modernisasi. (*)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *